Demonstran Kendari Bentrok Dengan Aparat Kepolisian Terkait Izin Pertambangan

KENDARI, spiritsultra.com – Gabungan Aktivis Kendari dan masyarakat Konkep bentrok dengan pihak Kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja di depan gedung Gubernur Sulawesi Tenggara, Kamis (7/3/2019) terkait tujuh perusahaan pertambangan yang diduga masih memiliki izin beroperasi di Konawe Kepulauan (Konkep).

Sebelumnya para aktivis bersama ratusan masyarakat Konkep menyampaikan aspirasinya untuk mendesak Gubernur Sultra, Ali Mazi untuk segera mencabut izin pertambangan mineral logam dan batu bara di Konkep.

Kurang lebih satu jam demonstran melakukan orasi, Pj. ESDM Sultra, Andi Asis mengatakan berhubung Gubernur sedang sibuk dan sementara pak Wakil juga sedang menerima tamu, maka saya di berikan mandat untuk menyampaikan bahwa pencabutan Izin tambang di Konkep yang sebagaimana yang diharapkan itu tidak serta merta dilakukan, harus butuh proses kordinasi dengan Institusi serta lembaga-lembaga pemerintah.

“Kami tidak dapat menentukan waktu, sebab butuh proses mulai dari Kabupaten, Provinsi sampai pada tingkat pemerintah pusat dan Kementerian,” tuturnya.

Namun, lanjut Abdul Asis mengatakan, saya selaku yang membidangi persoalan ini, kami segera memproses sesuai dengan tahapan tetapi, ia menghimbau, ketika pertambangan Mineral Logam dan Batu Bara dihentikan akan berimbas pada pembangunan daerah di Sultra.

Pemerintah sangat membutuhkan untuk pembangunan infrastruktur seperti material batu-batuan untuk kebutuhan pembangunan fasilitas pemerintahan serta pembangunan rumah masyarakat dan di dalamnya juga ada pemasukan aset daerah. Terangnya.

Pantauan spiritsultra.com, penjelasan yang dipaparkan oleh Andi Asis dihadapan masyarakat Konkep yang dimotori oleh gabungan aktivis, tidak merubah aspirasi yang mereka bawakan dan mereka tetap menunggu untuk bertemu langsung dengan Gubernur Sultra, Ali Mazi.

Kapolres Kendari, AKBP Jemi Junaedi
dengan tindakan tegas memberikan waktu lima menit kepada demonstran untuk segera membubarkan diri. Namun koordinator aksi demonstran mengarahkan massa aksi untuk tetap dalam barisan.

Lebih 20 menit waktu peringatan diberikan, aparat Kepolisian langsung bertindak menyemprotkan gas air mata untuk membubarkan barisan demosntran di depan gedung Gubernur Sultra, sehingga terpicu bentrokan dengan aksi saling lempar batu.

Laporan: Rudia
Editor : La Ode

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

WpCoderX