Desa Kollo Soha Wakatobi Gelar Ritual Adat Safara’a di Event Festival Hondue Memanggil

WAKATOBI, spiritsultra.com – Dari Sekian tahun, tradisi budaya Safara’a kembali digelar pada event Festival Hondue Memanggil yang sukses dilaksanakan oleh Pemerintah Desa Kollo Soha, Kecamatan aa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Tradisi budaya Safara’a merupakan ritual adat yang sering dilakukan oleh masyarakat setempat yang merupakan dari tradisi nenek moyang terdahulu dan dilakukan dalam setahun sekali pada hari tertentu atau penanggalan bulan islam atau pada bulan hijriyah.

Sebagian makna tradisi budaya Safara’a, Sudiman, S.Pd menjelaskan, nenek moyang kita dulu seperti pekerja melaut dan pekerja di darat yang setiap tahunnya melakukan ritual adat budaya di pesisir pantai untuk bermunajat kepada Allah SWT agar membukakan pintu rahmatNya, baik rezeki yang tertutup di dalam laut maupun di permukaan darat untuk dilimpahkan melalui kalimat “Salamun Qaulam Mirrobbir Rohim,” tutur kepala desa Kollo Soha kepada spiritsultra.com. Minggu 6 Oktober 2019.

Pada event Festival Hondue Memanggil, lanjutnya, kami mengangkat kembali tradisi terdahulu untuk terus dilakukan dan dipertahankan untuk dilestarikan, pungkasnya.

Masyarakat Kolo Soha, Kec. Tomia, Ikuti Prosesi Ritual Adat Safara’a. Foto: IST

Ketua Penyelenggara, Ahmad menambahkan,
event Hondue Memanggil sebelumnya pada bulan April 2019 pernah dilaksanakan oleh Karang Taruna desa Kollo Soha, komunitas KATUTURA Art and Culture bersama Seniman Suling asal Selayar. Mereka sukses gelar satu malam mulai pukul 20.30 hingga 22.00 Wita. Ucapnya.

Dan kali ini, Pemerintah Desa Kollo Soha, menggelar Festival Hondue Memanggil dengan tema “To Po’afa i Hondue” sukses terlaksana dengan baik dan kegiatan ini bersumber dari Anggaran Dana Desa (ADD) 2019 sebesar Rp.7.000.000 yang sebagiannya bersumber dari partisipasi masyarakat desa Kollo Soha, bebernya.

“Alhamdulillah semangat gotong-royong masyarakat desa Kollo terus bekerja yang terhitung sejak Selasa 3 September 2019 hingga terselenggara dengan baik dan event Festival berlangsung selama dua hari.”

Dari beberapa atraksi antar dusun pada event ini yang dikemas dalam bentuk permainan seperti lomba pungut sampah, menyelam sampah plastik, permainan tradisional seperti Fatu-fatu Bo’o, Ase, tradisi Hetombole.

Dan juga ada pentas Tari Balumpa, Tari Wakenta dari Karang Taruna desa Kollo Soha, Tari Kreasi dari KARPATI (Karang Taruna Pasti Timu) desa Kulati, Kecamatan Tomia Timur dan juga Musikalisasi puisi yang turut memeriahkan acara malamnya.

Ritual Adat Safara’a Dipandu Oleh Imam (Tokoh Adat). Foto: IST

Serta di hari puncaknya pada Minggu 6 Oktober 2019, acara adat Safara’a mulai sekitar pukul 08.00 Wita dan lepas kegiatan pada malamnya yakni Ramah Tamah. Tutupnya.

Amatan spiritsultra.com, pada Sabtu 5 Oktober 2019, sekitar pukul 09.00 Wita, Festival Hondue Memanggil mulai di buka dengan bacaan sajak mengenang almarhum Drs. H. La Baharafi, M.Pd (Camat Tomia) wafat pada Rabu 25 September 2019 lalu.

Usai baca puisi, acara berlanjut dengan tarian Kolosal dalam tema “Tomia To Molingua” dengan sebanyak 110 penari dari siswa-siswi Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), Kecamatan Tomia. Dan berlanjut dengan acara sambutan sekaligus pembukaan acara.

Penulis: Ode Nafi

Editor : Iyan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

WpCoderX