Bupati Meninjau Pengaspalan Di Bumi Oeho

PT. Antam Banding PTUN Konut Digugat Dengan Adat Mosehe Tolaki

KONUT, spiritsultra.com – Akta permohonan banding PT. Antam di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Kendari nomor: 25/G/2019 PTUN kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Senin 2 desember 2019 digugat oleh masyarakat desa Tapunopaka, Kecamatan Lasolo Kepulauan, Kabupaten Konawe Utara (Konut) atas lahan yang masuk dalam konsesi IUP.

“Putusan itu kami sementara melakukan upaya hukum banding dengan batas waktu 14 hari,” ucap Bambang yang menerima aksi unjuk rasa mengaku sebagai legal standing hukum PT.Antam Pomalaa.

Sebagai rakyat biasa yang tidak mampu bayar pengacara handal. Kami hanya bisa berbondong-bondong mempertahankan tanah leluhur milik kami dengan cara berunjuk rasa dan tekad yang kuat mendatangi lokasi penambangan PT. Antam blok Tapunopaka serta menggandeng para pemuka adat Kabupaten Konawe Utara, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan unsur pemilik lahan lainnya serta didampingi LSM KOMPAK.

“Leluhur kita sudah duluan mendiami daratan Lasolo Konawe. Oleh karena itu, kita sebagai anak cucu, perlu kita mempertahankan tanah leluhur kita. PT. Antam adalah perusahaan yang kita harapkan tapi, nyatanya sekarang ini perusahaan tambang PT. Antam tidak mengakui hak-hak rakyat Konawe Utara,” ucap mantan camat Lasolo dan sekaligus tokoh masyarakat Konut, Elpis Mamengko saat orasi di lokasi penambangan PT. Antam blok Tapunopaka.

Amatan spiritsultra.com, masa unjuk rasa memulai aksinya dari jetty milik PT. Antam dan berhasil menerobos pengawalan dari PT. Antam dan masuk menuju stok file di dekat kantor site Blok Tapunopaka.

Ratusan masa aksi tersebut melakukan ritual adat Mosehe Wonua yakni, meminta kepada leluhur adat Tolaki agar menunjukkan kebenaran yang dimana warga Konut saat ini pernah tergugat di PTUN Kendari, kini kembali banding oleh PT. Antam. Niatan perusahaan plat merah itu sangat kuat untuk menguring pemilik lahan yang diduga satu kali di tolak dan kembali banding lagi.

Salah seorang pemuka Adat mengatakan, pelaksanaa ritual ini kami memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar terhindar dari bencana, memohon kepada hutan rimba untuk melindungi masyarakat dan proses Mosehe Wonua ditandai dengan kain kafan yang memiliki simbol hati kami suci memperjuangkan hak rakyat, ucapnya.

Saat proses ritual, ratusan para aksi duduk bersilah menghormati proses adat dan di tandai aksi penyegelan kain kafan sebagai simbol kepercayaan masyarakat akan memberikan nilai-nilai suci dengan kebenaran yang nyata.

Pemasangan kain kafan menandakan bahwa, ketika pihak antam sengaja merusak atau membuka kain kafan yang dibentangkan, secara tidak langsung telah menginjak-injak budaya masyarakat setempat khususnya suku Tolaki.

Untuk diketahui, aksi berlangsung saat PT. Antam sedang melakukan pemuatan ore nikel di jalur jalan Haulin untuk di ekspor keluar negeri yang dimana menurut pemilik lahan bahwa tanah ore nikel tersebut berasal dari lahan milik mereka bahwa pemilik lahan mengutuk keras penyerobotan lahan dan mengharamkan kegiatan ekspor PT. Antam.

Penulis : Rudia

Editor : La Ode

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

WpCoderX