77 Karya Mural Fantastis Komunitas Porambanga di Wakatobi

WAKATOBI, SpirirtSultra.Com – Mengulas 77 karya mural komunitas PORAMBANGA PROJECT asal pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) yang merupakan pemuda-pemuda kreatif dan inovatif.

Komunitas ini merupakan satu-satunya di Wakatobi yang sudah cukup banyak dikenal dalam kalangan masyarakat dan memiliki jumlah anggota sebanyak tujuh orang yakni enam laki-laki dan satu orang perempuan.

Sebelumnya perlu diketahui, mural merupakan karya seni yang dilukis atau diaplikasikan langsung di dinding, langit-langit atau permukaan permanen lainnya. Ciri khas lukisan mural adalah bahwa elemen arsitektur ruang yang diberikan secara harmonis dari bentuk gambar serta perpaduan warna.

Salah satu anggota PORAMBANGA PROJECT, Amin Ansari menjelaskan, pada awalnya suatu komunitas ini terbentuk, tentunya masing-masing memiliki kemampuan mengukir gambar maupun memadukan warna, ucapnya kepada spiritsultra.com (31/1/20).

“Saya pribadi memulainya dengan perlahan belajar secara autodidak dengan menggunakan kertas dan spidol warna. Dibanyak tempat saya sering melakukannya ketika punya waktu luang untuk mengasah dan melatih jari,” ungkapnya.

Dengan proses waktu yang lama dari belajar mural, saya mendapat tawaran dari teman untuk menggambar dinding kamar kostnya di Kendari. Dari itulah saya merasakan kepuasan yang sangat berbeda dengan mengaplikasikannya ke dinding.

Karya mural pada 21 April 2017. IST

Pada bulan Agustus 2017, Amin bersama rekan PORAMBANGA PROJECT, membenahi ruangan kerja komunitas yang tepatnya di Kecamatan Tomia Timur dengan lima jenis gambar.

2018, salah satu anggota PORAMBANGA PROJECT, Safar Safrin usai membangun distro miliknya, tanpa mengundur waktu, mereka kembali bermain dengan menguas empat dinding yakni tiga jenis tema gambar pada dinding dalam ruangan dan satu jenis tema di luar ruangan bangunan distro.

Pertengahan bulan yang tepatnya pada 17 Juli 2018, PORAMBANGA PROJECT mendapat tawaran kerja mural di desa Kulati, Kecamatan Tomia Timur dalam rangka persiapan event.
Gambar.

Pantauan spiritsultra.com, komunitas PORAMBANGA PROJECT melakukan aksi World Cleanup Day (WCUD) 2018 yang merupakan aksi serentak seluruh dunia dalam gerakan bersih pantai dari sampah plastik.

Dalam persiapan WCUD tersebut, PORAMBANGA PROJECT gelar mural di pantai Te’e Timu, desa Kulati, Kecamatan Tomia Timur.

Sebanyak lima jenis Mural Art Eksterior 2 September pada bangunan tua di pantai Te’e Timu dalam peringati WCUD yang bergerak serentak pada 15 September 2018 di seluruh dunia.

Sekitar pukul 15.30, jelang momen sunset di puncak Waruu, Tomia Timur yang dimana masyarakat lokal dan wisatawan sering berkunjung. PORAMBANGA PROJECT live mural dan mendapat respon para pengunjung ketika melihat aksi mural yang digelar sore itu, 19 September 2018.

Kota Semarang, Jawa Tengah, salah satu anggota PORAMBANGA PROJECT gelar mural bersama komunitas setempat. Fardianto menjelaskan “Kegiatan mural bersama yang kami gelar dengan tujuan memperindah tembok-tembok pagar yang ada di lorong rumah-rumah penduduk setempat.” bebernya kepada spiritsultra.com (4/2/2020).

Karya Mural 23 Oktober 2018.

Dilain tempat, PORAMBANGA PROJECT terlibat langsung di event Wakatobi Wave, pada 11 November 2018 dengan menampilkan tiga karyanya yang menggunakan media kayu lapis atau yang biasa disebut tripleks dan menggunakan sampah potongan kayu yang diambil dari bibir pantai.

Properti interior segi empat dari sampah kayu dan bisa menghiasi ruangan dinding rumah dengan gaya shabby.

Dari media tripleks yang digunakan sebagai foto boot

Setelah usai kegiatan event tersebut, PORAMBANGA PROJECT diundang salah satu pemilik kedai kopi untuk menitip karyanya pada dinding kedai milik Dony di wilayah Mandati II, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi.

Karya mural dengan jenis Totem dan tema pantai, 20 November 2018

Pada 5 Desember 2018, mereka mendapat orderan mural di wilayah Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, dengan ukuran 4×4 meter luas dinding. Amin Ansari mengatakan, kalau ada orderan, terlebih dulu mendesain gambarnya sesuai dengan keinginan pengorder, setelah itu diaplikasikan pada media dinding tersebut, tutur Desain Grafis itu kepada spiritsultra.com (31/1/2020).

“Pengorder wajib menyediakan cat sesuai dengan gambar dan soal perhitungan jasa mural dihitung permeter sesuai besaran gambar, bebernya.

Ditempat yang berbeda, orderan mural kembali mewarnai alat kuas mereka dengan tema green yang menghidupkan suasana ruang kerja pengorder.

Mural 9 Desember 2018

Permintaan orderan terus dikerjakan dengan berbagai jenis gambar mural seperti yang mereka lukis di tembok kedai Laroka, Desa Waitii,  Kecamatan Tomia, 10 Desember 2018.

Terlihat gambar mural 60 persen pengerjaan

Pekerjaan seni mural merupakan bagian hoby dan pekerjaan seniman lokal asal pulau Tomia ini dengan terus bermain alat kuas yang tepatnya untuk kembali menjawab keinginan pengorder di kota Kendari pada 4 Januari 2019.

27 Januari 2019, PORAMBANGA PROJECT mengucapkan terimakasi serta suport dari puluhan pengorder atas kepercayaan jasa mural dan “Kami Porambanga Project telah bergantung hidup dari kesenian yang kami miliki,” ucap Muh. Sukriman kepada spiritsultra.com ketika ditemui di TK Dharma Wanita, Usuku Tongano, Kecamatan Tomia Timur yang sedang berlangsung aktivitas mural.

8 Februari 2019, PORAMBANGA PROJECT gelar mural bersama di bangunan tua bekas pasar Usuku, wilayah Kelurahan Bahari Barat, Kecamatan Tomia Timur.

Berselang waktu sebulan, PORAMBANGA PROJECT mendapat orderan lagi di Kota Baubau, 8 Maret 2019.

Pada 18 April 2019, komunitas PORAMBANGA PROJECT turun aksi damai di wilayah lapangan kebangkitan Usuku, Tomia Timur, dengan menggunakan seni mural dalam tema “Po’asa-asa Pohamba-hamba” pada ahir momen Pemilu Legislatif.

Rabu 1 Mei 2019, merupakan awal bulan mereka mendapat orderan mural dengan dua tema di Lingkungan Waha, Kecamatan Tomia untuk mewarnai ruangan restoran mini.

Pertengahan bulan, tepatnya 20 Mei 2019, dua orang anggota PORAMBANGA PROJECT, berkolaborasi live mural dengan menggunakan media tripleks pada event ahir pekan komunitas di pelataran Pasar Sentral Usuku, Kecamatan Tomia Timur.

PORAMBANGA PROJECT turun aksi sosial di wilayah Dermaga Usuku, Kecamatan Tomia Timur untuk merespon adanya sampah plastik dengan mereplikasi seekor ikan hiu bertarung melawan sampah palstik.

Mural Eksterior 28 Mei 2019 dan nampak tumpukan sampah plastik (kiri) di perairan dermaga Usuku

Pada ahir bulan (29 Mei 2019), mengisi waktu luang dengan kegiatan edukasi karya seni mural bersama beberapa pemuda Tomia Timur.
Dari hasil edukasi seni mural ditampilkan pada tembok pagar area jalan poros Usuku-Waha, PORAMBANGA PROJECT mendapat respon  dari Pemerintah Kecamatan Tomia Timur untuk menggambar latar panggung dengan tema budaya lokal dalam rangka persiapan menyambut HUT RI ke 74 tahun.

Kegiatan peringati HUT RI ke 74 yang dimeriahkan dengan berbagai lomba. PORAMBANGA PROJECT dipercayakan menjadi juri pada Lomba Menggambar di tingkat usia dini.

Lomba Menggambar, Selasa 13 Agustus 2019

Usai kegiatan HUT RI, PORAMBANGA PROJECT kembali gelar edukasi mural di tembok pagar area jalan poros Usuku-Waha pada 18 Agustus 2019 yang diikuti oleh beberapa pemuda Tomia dalam hobi yang sama.

Gedung PAUD di desa Kulati, Tomia Timur, tidak ketinggalan dengan karya moderen seni mural dari hasil karya PORAMBANGA PROJECT dan sudah banyak di beberapa tempat yang telah menarik diwarnai hingga menginspirasi banyak orang dan ingin melihat langsung aktivitas pekerja seniman asal Tomia ini.

Mural 20 Agustus 2019

Berselang beberapa hari. Pada 27 Agustus 2019, PORAMBANGA PROJECT menyatakan sikap dengan merespon tindakan rasisme yang menimpa warga papua di Malang dan Surabaya.

Karya mural pada wilayah Bukit Waruu

Awal September 2019, PORAMBANGA PROJECT kembali mendapat orderan mural di kedai kopi yang berada di jalan poros Usuku-Kahianga. Sebanyak 18 jenis desain interior yang memiliki kesan tersendiri.

Menjelang persiapan event Festival Bahari Pulau Tomia, 23 September 2019. PORAMBANGA PROJECT kerja orderan mural dari Pemerintah Kecamatan Tomia, mengangkat tema lokal budaya tari “Sajo Moane” dengan tari “Saride,” seperti yang diungkapkan oleh salah satu anggota PORAMBANGA PROJECT, Firman menegaskan, event budaya tentunya harus direspon dengan tema-tema budaya yang dimiliki oleh Tomia Wakatobi.

“Dengan cara mural ini, menurut Firman, akan banyak masyarakat khususnya pemuda-pemudi Tomia untuk selalu merespon dengan positif. Untuk itu harus lebih banyak bentuk karya-karya seni dalam tema kebudayaan yang kita miliki sebagai identitas peradaban,” tuturnya.

Karya mural PORAMBANGA PROJECT (P2)

Komunitas ini telah terlibat pada event Wakatobi Wave 2017, 2018 dan di tahun 2019 juga mereka hadir dalam gerakan mural eksterior yang di aplikasikan pada media tripleks dengan dua jenis Pygmy kembar yang digunakan sebagai pintu masuk pada stand-stand pameran di pelataran pantai Marina.

Di ahir tahun 2019, PORAMBANGA PROJECT menerima orderan mural dari Pemerintah Desa Pookambua, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi.

Mural Eksterior 16 Desember 2019

Dan di awal tahun 2020, aktivitas seniman PORAMBANGA PROJECT kembali di gelar pada 20 Januari 2020 yang tepatnya di wilayah pesisir, Kelurahan Bahari Barat, Kecamatan Tomia Timur dengan sebanyak enam bentuk karya mural yang diaplikasi dari media tripleks dan dinding.

Komunitas PORAMBANGA PROJECT, asal pulau Tomia, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) ini terbentuk dari hobi yang sama pada bidang seni dan budaya.

Di tahun 2015, para seniman ini membuat event sederhana dengan tema “Pagelaran Seni se Tomia” yang dimeriahkan dengan lapakan alat tradisional dan pameran foto di gedung serba guna, Kecamatan Tomia Timur.

Setelah kegiatan itu sukses digelar, seniman-seniman ini membentuk komunitas KATUTURA Art and Culture yang bergerak di bidang kesenian dan budaya. Di masing-masing anggotanya memiliki skill yang beragam.

Karena aktivitas kesenian dan budaya sangat melibatkan orang banyak, maka seniman ini membagi projeknya di PORAMBANGA PROJECT, HEDONGKA PROJECT, TOBURI dan SUNDAY MORNING dalam ikatan semangat solidaritas KATUTURA Art and Culture.

Penulis: Ali Hanafi

Editor  : Iyan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

WpCoderX