OPINI: Mengurangi Kearifan Lokal, Tempat Wisata Hendaopa dan Te’ewali Dipermak Beton

WAKATOBi, Spiritsultra.Com- Keindahan  secara alamia yang dimiliki Wakatobi sebagai Kabupaten terbaik dari 500 Kabupaten yang ada di Sulawesi Tenggara (Sultra), telah ditetapkan oleh Presiden Indonesia sebagai 10 destinasi terbaik (top Ten destination).

Kabupaten Wakatobi, memiliki luas wilayah 823 km² yang terbagi empat pulau terpisah yakni, Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Empat pulau ini terkenal indah sebagai salah satu tempat wisata favorit yang didukung dengan keindahan bawah laut dan pasir putih yang melintang disetiap pulau.

Sebagai putra daerah, saya menyayangkan tempat wisata Hendaopa dan Te’ewali yang ada di Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi yang kini dipermak beton.

Tempat wisata Hendaopa belum cukup dikenal dan masih terbilang jarang wisatawan memilih untuk berkunjung.

Hendaopa yang ada di Desa Wawotimu merupakan salah satu permandian unik karena berbentuk goa yang masuk ke dalam tanah. Dari luar, tempat ini tampak seperti lubang biasa, namun di dalamnya terbentuk sebuah kolam air tawar yang jernih dan permandian Alam Hendaopa masih belum banyak dikenal oleh para wisatawan luar daerah Wakatobi, maka tak heran bila akses ke lokasi ini pun sangat terbatas.

Permandian Alam yang dimiliki Hendaopa merupakan objek wisata perpaduan antara wisata alam dan sejarah untuk menyelaraskan produk wisata dengan konservasi alam dan budaya menjadi tantangan bagi pemerintah maupun masyarakat setempat dan turut menjaga kealamian alam agar tidak hilang karena identitas kita dimulai dari sejarah yang dimana kita berasal.

Mengembangkan kepariwisataan harus ada kajian lingkungan agar lingkungan tersebut tidak rusak dan juga perlunya sosialisasi atapun musyawarah sebelum melakukan atau bertindak tanpa adanya kajian yang jelas.

“Salah satu teman saya yang berasal dari desa Wawotimu mengatakan bahwa Hendaopa memiliki wajah baru berkonsep kekinian yang dipermak dengan beton dan dibuatkan juga tangga yang melintang dari atas permandian dan proyek ini menggunakan dana desa dan juga pengerjaan ini tidak dilakukan sosialisasi atau rapat pemerintah desa tanpa melibatkan seluruh masyarakat setempat,” ungkapnya dalam percakapan whatsap kami. Jumat (6/3/20)

Menurut saya, segala apa yang ada di desa harus dimusyawarahkan terlebih dahulu karena membangun sesuatu apalagi tentang pariwisata harus ada ketelitian agar harapan Kabupaten Wakatobi bisa bersaing di pariwisata yang berkelanjutan.

Tentunya disini bukan hanya untuk tempat berfoto atau datang mandi, tetapi disini harus ada cerita sejarah yang kita sajikan kepada pengunjung maupun sajian khas lokal yang berbeda dengan tempat lainnya.

Berbicara pengembangan merupakan hal yang harus ada aktifitas positif yang bisa mensejahterakan masyarakat maupun meningkatkan pendapatan kas desa agar Anggaran Dana Desa terpakai tepat sasaran.

Sejak tahun 1996, Wakatobi telah ditetapkan sebagai taman nasional Indonesia dan cagar alam dunia untuk biosfer laut oleh UNESCO. Wisata di Indonesia berbasis budaya dan alam. Dua hal itu harus dijaga dan ini menjadi titik yang sangat penting bagi Pemerintahan setempat hingga pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Kekayaan yang ada di Indonesia khususnya Wakatobi harus dijaga dan dilestarikan agar tidak hilang. Ancaman kerusakan yang mungkin terjadi terhadap keanekaragaman ini umumnya berasal dari manusia, maka dari itu harus dibuat peraturan mengenai tempat konservasi bernama Taman Wisata Alam (TWA).

Potret Permandian Alam Hendaopa yang Sebelumnya. IST

Seperti di Hendaopa yang sangat dekat dengan laut, itu akan memiliki hubungan ataupun keterkaitan dengan kekayaan lautnya yang bisa diolah atau dikemas menjadi produk unggulan yang dinamakan dengan pariwisata berbasis ekonomi dalam kepariwisataan yang berkelanjutan.

Wakatobi sangat dikenal dengan keindahan alam bawah lautnya. Tidak kurang dari 942 spesies ikan dan 750 spesies karang tercatat menghuni wilayah perairan Wakatobi yang harus didukung juga dengan daratnya.

Beberapa kerabat yang bergerak di komunitas, lembaga, penulis, pemerhati dan aktivis, mereka sering mendapat keluhan tentang Wakatobi sangat minim dengan daya pendukung sarana wisata di darat karena aktifitas wisatawan tidak hanya untuk di dalam laut saja, sampah plastik berserahkan dan wisata alam yang ada di darat cukup bosan karena telah dipermak dan hilang bentuk alamiahnya.

Dan yang kita perlu tahu juga, permandian Te’ewali yang ada di desa Kahianga, Kecamatan Tomia Timur sama persis tragisnya dengan permandian alam Hendaopa.

Te’ewali merupakan tempat permandian dan airnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Tetapi karena akses masuk ke dalam goa Te’ewali sangat sulit maka dibuatkan tangga permanen (beton) agar mudah keluar masuk mengambil air.

Tentunya pemerintah desanya bisa menyambungkan pipa dan airnya disalurkan dengan memakai mesin pompa untuk memudahkan masyarakat setempat yang tidak perlu lagi mengambil air dengan menggunakan ember maupun cergen.

“Yang paling dipertanyakan, kenapa harus dibuatkan lagi pagar/tembok di area permandian,?”

Adanya Pemerintahan desa agar lebih cepat berinovasi yang disertai dengan kajian lingkungan karena Wakatobi adalah Top Destinasi Pariwisata Alam yang memiliki keindahan alam serta potensi yang cukup beragam untuk dikembangkan serta melestarikan demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

Hingga saat ini, wisata alam maupun permandian alam Hendaopa dan Te’ewali menjadi tontonan, dalam artian tidak adanya imbas balik peningkatan pendapatan desa maupun imbas balik kepada kesejahteraan masyarakat.

Beberapa macam daya tarik wisata seperti:
Ciptaan Tuhan yang Maha Esa berupa alam, flora dan fauna.

Hasil karya inovasi manusia dan pelestarian budaya, contohnya museum, seni dan budaya, berburu, petualangan alam, hiburan, membuka lokasi taman rekreasi dengan beragam atraksi bermain, mendaki gunung, berburu, tempat belanja, tempat ibadah dan ziarah, industri, kerajinan, dll.

Pembangunan kepariwisataan harus tetap memperhatikan jumlah penduduk. Jumlah penduduk akan menjadi salah satu modal utama dalam pembangunan kepariwisataan pada masa sekarang dan yang akan datang karena memiliki fungsi ganda, di samping sebagai aset sumber daya manusia, juga pembangunan kepariwisataan dapat dijadikan sarana untuk menciptakan kesadaran akan identitas nasional dan kebersamaan dalam keragaman.

Pembangunan kepariwisataan dikembangkan dengan pendekatan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat dan pembangunan yang bersifat memberdayakan masyarakat yang mencakupi berbagai aspek, seperti sumber daya manusia, pemasaran, destinasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, keterkaitan lintas sektor, kerja sama antarnegara, pemberdayaan usaha kecil, serta tanggung jawab dalam pemanfaatan sumber kekayaan alam dan budaya.

Dasar hukum Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan adalah Pasal 20 dan Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Penjelasan Umum UU Kepariwisataan yakni, Tuhan Yang Maha Esa telah menganugerahi bangsa Indonesia kekayaan yang tidak ternilai harganya. Kekayaan berupa letak geografis yang strategis, keanekaragaman bahasa dan suku bangsa, keadaan alam, flora dan fauna, peninggalan purbakala, serta peninggalan sejarah, seni dan budaya merupakan sumber daya dan modal untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia sebagaimana terkandung dalam Pancasila dan dicita-citakan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Sumber daya dan modal tersebut perlu dimanfaatkan secara optimal melalui penyelenggaraan kepariwisataan yang ditujukan untuk meningkatkan pendapatan nasional, memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja, mendorong pembangunan daerah, memperkenalkan dan mendayagunakan daya tarik wisata dan destinasi di Indonesia.

Itulah beberapa penggalan materi yang diatur dalam Undang-Undang kepariwastaan untuk pembangunan kepariwisataan yang komprehensif dan berkelanjutan, koordinasi lintas sektor, pengaturan kawasan strategis, pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah.

Kawasan Strategis Pariwisata adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih pada aspek seperti, pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan secara kompetensi pada seperangkat pengetahuan, keterampilan, perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh masyarakat atau pekerja pariwisata.

Dengan tulisan ini, semoga kita lebih mengutamakan musyawarah, sosialisasi, kajian dan ketelitian untuk perkembangan dan memiliki nilai guna. Tidak hanya di Hendaopa dan Te’ewali, tetapi masih ada beberapa wisata alam yang dimiliki di empat pulau Wakatobi ini dipermak beton. Destinasi Wisata adalah menjaga kearifan lokal dan patut dilestarikan.

“Mari Lestarikan Alam untuk kehidupan yang panjang dan Tinggalkan Kesibukan Penanaman Beton.”

Penulis: Darren Malaikan (Fotografer)
Editor : Iyan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

WpCoderX