OPINI: Virus Corona, Konsumsi Daging Liar?

Spiritsultra.Com – Ada yang tidak sanggup hidup tanpa makan daging? Kamu lemas kalau seharian tak makan daging? Ya, sayapun.

Pernah dengar ungkapan “Kebohongan yang diucapkan secara berulang, suatu ketika nanti akan menjadi kebenaran?” sampai disini kamu paham maksud saya?

Berawal dari banyaknya isu yang berseliweran mengenai muasal Virus Corona. Isu akibat “Mengkonsumsi daging binatang liar” adalah yang paling menggelitik, lalu merebaklah video- video yang mempertontonkan aktivitas memakan daging hewan tertentu yang diduga kuat menjadi penyebab virus corona tersebut.

Video dan kabar tersebut dibagikan secara cepat oleh beberapa warganet dengan narasi menuding dan membenarkan diri. Berangkat dari semua itu, saya tergerak untuk menyusun parafrasa ini.

Apa yang tidak liar di bumi ini? Jauh sebelum adanya dominasi dan domestikasi terhadap alam. Manusia dan alam hidup berdampingan, perubahan yang besar baru hadir di era akhir Neolitikum (sekitar 3000 SM) dengan dikembangkannya agrikultur secara lebih intensif.

Binatang atau hewan mulai digunakan untuk diambil susunya dan produk wool selain dagingnya, serta mulai digunakan untuk menarik bajak dan kereta. Untuk pertama kalinya, manusia mulai mengurung sejumlah besar binatang dalam sebuah peternakan. Secara sistematis, binatang-binatang itu dipisahkan dari kehidupan liarnya dan dikembangbiakkan dengan selektif, sehingga binatang-binatang domestik pertama itu secara berangsur-angsur menjadi berbeda secara fisik dari saudara-saudara mereka yang hidup di alam bebas.

Manusia juga termasuk ke dalam genus mamalia. Sebagaimana kita bisa telusuri pada perjalanan hidup manusia seperti manusia Hominid muncul sekitar 25 juta tahun lalu, darinya berevolusi berbagai spesies, termasuk kera, dan sekitar 250.000 tahun lalu, barulah muncul Homo Sapiens. Gigi geligi dan berbagai bentuk fisikal lainnya, memperlihatkan bahwa Hominid pada utamanya adalah vegetarian.

Manusia tidak memiliki gigi yang tajam, cakar yang kuat atau sistem pencernaan yang umum seperti karnivora. Walaupun di era tersebut beberapa Hominid menjarah daging hasil buruan binatang lain, tetapi pola makan pada dasarnya terpaut pada tumbuhan.

Perburuan binatang yang lebih besar untuk dimakan, hadir sejalan dengan semakin pentingnya daging untuk masuk ke dalam pola makanan yang menjadi signifikan saat manusia berhadapan dengan kondisi yang lebih dingin yang dimana tumbuhan semakin sulit ditemui, khususnya di era terakhir dari empat bagian besar Zaman Es. Perburuan yang besar dilakukan pada era tersebut.

Imaji popular bahwa para primitif yang haus darah dan makan daging setelah membunuh buruannya dengan kejam, jelas adalah presepsi yang belum tentu benar. Dugaan bahwa manusia adalah sepenuhnya pemburu di mana “Makanan utamanya adalah daging dan pekerjaan utamanya adalah berburu” telah banyak dikritisi sebagai Sebuah Refleksi yang kebanyakan kepentingan serta prakonsepsi-prakonsepsi dari para antropolog lelaki Barat abad ke-19 dan status berburu sebagai pengisi waktu luang kelas atas di Eropa abad ke-19.” (Ehrenberg).

Jadi, manusia dulu sebenarnya tak begitu memprioritaskan konsumsi daging dalam pola makannya. Bahkan Baginda Nabi sendiri pun memakan daging sesekali saja atau hanya untuk menunjukkan bahwa daging jenis tersebut “Halal.”

“Jangan lantas anda terburu-buru melabeli pihak lain tentang persoalan halal atau haramnya daging yang dikonsumsi. Hati-hati lho, sebab persoalan halal dan haram itu harus dipastikan juga dari cara menyembelinya sesuai dengan ajaran agama islam.”

Penulis: Fitri (Pendiri Sunday Morning Tomia)
Editor: La Ode

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

WpCoderX