Kompak Laporkan Pihak Terkait : Diduga Sebagian Besar Volume Pekerjaan Tidak Sesuai Juknis

KONUT, Spirit Sultra. Com – Koalisi Masyarakat Peduli Konawe Utara (KOMPAK) resmi melaporkan PPK, Kontraktor, dan Konsultan pekerjaan Tanggul Pengaman Abrasi Pantai Desa Pudonggala Kecamatan Sawa Kabupaten Konawe Utara (KONUT) Provinsi Sulawesi Tenggara (SULTRA) diduga sebagian Volume Pekerjaan di kurangi /tidak dikerjakan sesuai Juknis.

Diketahui adanya pekerjaan Tanggul Pengaman Abrasi Pantai Desa Pudonggala Anggaran 2020 yang dikerjakan oleh kontraktor pelaksana CV. ANANINDHITA, Nomor Kontrak : 02/SP/RR-HIBAH/BPBD-KONUT/II/2020, Nilai Kontrak Rp. 3.642.200.000.00,- (Tiga Milyar Enam Ratus Empat Puluh Dua Juta Dua Ratus Ribuh Rupiah) adalah salah satu pekerjaan yang  sumber dananya dari Paket Dana Hibah APBN dari BNPB RI Tahun 2019-2020 Di Kabupaten Konut.

Saat di temui awak media, Oschar Sumardin selaku Sekertaris Umum HIPPMA-KONUT menuturkan,  Paket dana hibah APBN dari BNPB RI di Kabupaten Konawe Utara sebesar Rp 17.000.000.000.00  (Tujuh Belas Miliar) masuk di APBD Konut dianggarkan menjadi 13 Paket Proyek. Salah satunya adalah tanggul abrasi pantai. Rabu (12/6/20)

” Panjang pekerjaan tanggul pengaman abrasi pantai tersebut berkisar 550 meter, yang dikerjakan sejak februari sampai april 2020 terbilang cukup singkat, namun pada tanggal 5 juni 2020 diketahui tanggul yang baru 3 bulan lamanya usai di kerja ambruk kurang lebih 80% rusak total. Kami duga desain talud tidak melalui kajian teknis Kok baru 3 bulan lamanya sudah ambruk “, Terangnya

Tanggul Pengaman Pantai Sebagian Besar Rusak

Pekerjaan tidak sesuai RAB banyak jenis pekerjaan di hilangkan,  kuku talud tidak terpasang maka pekerjaan ini telah merugikan keuangan Negara berkisar sebesar  Rp. 192.158.560.00,- (Seratus Sembilan Puluh Dua Juta Seratus Lima Puluh Delapan Ribu Lima Ratus Enam Puluh Ribu Rupiah) dengan rincian sebagai berikut : 0,40 x 0,80 x 550 meter = 176 kubik x Rp 1.091.010. = Rp. 192.158.560.00,-

” Ada yang janggal dari proyek tersebut  tidak sesuai gambar dan RAB seharusnya Kuku duduk diatas cincin setebal 40 cm. Logikanya ini tanggul dibuat untuk menahan terjangan ombak agar tidak terjadi abrasi, bagaimana bisa dibuat untuk menahan ombak justru hancur karena ombak itu sendiri apalagi pekerjaan ini baru berkisar 60 hari selesai di kerja dengan anggaran yang fantastis. “, Ungkapnya

Pekerjan Tanggul Pengaman Pantai Baru Sekitar 60 Hari hancur Di Hantam Ombak

Lanjutnya, Setelah terpasang cincin atau gorong-gorong pondasi sumuran, Pekerjaan selanjutnya adalah pemasangan Pondasi Siklop: 60 % Beton Campuran dan 40 % batuh belah, tetapi yang terjadi cincin tersebut ditimbun pakai pasir dan tanah. Akibat dihilangkannya Pek. Pondasi Siklop : 60 % beton camp. 1 SP : 2 PB : 3 Kerikil dan 40 % Batu Belah (Sesuai RAB), maka kami duga telah merugikan keuangan Negara dengan kisaran miliyaran rupiah.

Hal senada juga di sampaikan Iksan Binsar mahasiswa UHO yang juga sebagai mentri social politik BEM UHO, menurutnya bahwa diduga direktur CV. Anandhita atas nama Ibu Sarmina merupakan istri dari Direktur CV. Adhita Persada Atas nama Risal Muchtar, S.T pemilik proyek Pekerjaan Rehabilitasi tebing Desa Tudungano Kecamatan Sawa dengan Anggaran Rp 488.000.000.00. Yang juga diduga bermasalah.

” 2 paket proyek Dana Hibah di Kecamatan Sawa dikerjakan oleh suami istri (Kontraktor dari luar Konut). Dan PPK pekerjaan tanggul pengaman abrasi pantai adalah saudara Galib yang juga menjabat sebagai Kabid RR BPBD Konut tidak lain adalah Ipar Bupati Konut “, Ujarnya

Pada tanggal 7 Juni 2020 kami telah menerima berita acara Penolakan Hasil Pekerjaan Tanggul Pengaman Abrasi Pantai oleh masyarakat Desa Pudonggala Utama.

Atas dasar inilah disertai dengan bukti-bukti kami yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Peduli Konawe Utara (KOMPAK) melakukan Pelaporan ke POLDA SULTRA, BPK, dan KEJAKSAAN TINGGI mendesak untuk segera memeriksa serta mengaudit PPK, Kontraktor, dan Konsultan pekerjaan Tanggul Pengaman Abrasi Pantai Desa Pudonggala. Karena ini bukan hanya Negara yang dirugikan tapi juga dikemudian hari bisa jadi bencana bagi Masyarakat  Desa Pudonggala Utama Tegas Mahasiswa UHO itu.

Penulis : Rudia
Editor    : La Ode

Tinggalkan Balasan