Spiritsultra.com, KONAWE UTARA – Dewan Pimpinan Daerah Lumbung Informasi Rakyat (DPD LIRA) Konawe Utara memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ketua Tamalaki Wonua Ndolaki (TAWON)Asrin Konut, dan Pasukan Adat TWK atas aksi nyata kunjungan langsung ke kampung Matarape, Provinsi Sulawesi Tengah bersama puluhan anggotanya.
Bupati LIRA Konut, Burnawan, S.Hut., menyampaikan bahwa langkah yang diambil oleh Ketua TAWON Konut adalah bentuk keberanian dan kepedulian terhadap nasib pribumi. LIRA sangat mengapresiasi giat tersebut sebagai wujud nyata persatuan putra daerah dalam menjaga marwah Wonua Ndolaki dari cengkeraman asing.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan TAWON dan TWK dengan lantang mengeluarkan ultimatum keras mengecam keberadaan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang masih bercokol di wilayah Matarape, Sulawesi Tengah. Mereka menegaskan Matarape bukan milik TKA, Matarape adalah tanah adat pribumi yang harus dijaga.
Tak hanya itu, ultimatum keras tersebut juga ditujukan kepada seluruh TKA yang berada di wilayah pertambangan Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. TAWON dan TWK mendesak agar semua TKA yang bekerja tidak sesuai aturan segera angkat kaki dari bumi Oheo.
Melalui rilis ini, LIRA dan TAWON bersuara satu: Pemerintah jangan tinggal diam! Baik Pemerintah Pusat, Pemprov Sulteng, Pemprov Sultra, hingga Pemda Konawe Utara diminta untuk segera bertindak tegas. Jangan biarkan rakyat pribumi terus menjadi penonton di tanahnya sendiri sementara asing merajalela.
Seruan keras juga ditujukan kepada Aparat Penegak Hukum (APH). LIRA dan TAWON meminta agar APH, mulai dari Imigrasi, Disnaker, hingga Kepolisian jangan tebang pilih dalam
menegakkan hukum. Tegakkan aturan ketenagakerjaan tanpa pandang bulu, jangan tajam ke pribumi tumpul ke TKA.
6: Pernyataan Keras Asrin di Lokasi Insiden Berdarah.
Pernyataan keras tersebut disampaikan langsung oleh Pimpinan DPD Tamalaki Wonua Ndolaki, dengan tegas dalam kunjungannya di kampung Matarape, tepat di lokasi tempat insiden berdarah akibat ulah TKA yang melukai masyarakat pribumi. Kehadiran Asrin dan puluhan anggota menjadi bukti bahwa adat tidak akan diam melihat darah pribumi tertumpah.
Dalam Penyampaian, Asrin bersama TWK dan anggotanya menegaskan, “TKA tidak boleh menambang di wilayah manapun! Sesuai aturan, mereka hanya boleh menjadi tenaga ahli, bukan pekerja kasar tambang. Mereka hanya jadi tenaga pekerja biasa di pabrik Morowali, Sulteng. Bukan jadi penambang di Matarape dan Konawe Utara
Dengan ini, LIRA Konut menyatakan siap bersinergi penuh bersama TAWON dan TWK untuk mengawal kasus ini hingga tuntas. Jika tuntutan untuk memulangkan TKA tidak diindahkan, maka aksi besar gabungan LIRA, TAWON, dan TWK dengan ribuan massa akan segera mengepung perusahaan tambang di Konut dan Matarape.
Rudia

